A. PENGERTIAN
Kepemimpinan berasal dari kata pimpin yang memuat dua hal pokok yaitu:
- pemimpin sebagai subjek, dan.
- yang dipimpin sebagai objek.
Kata
pimpin mengandung pengertian mengarahkan, membina atau mengatur,
menuntun dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi. Pemimpin mempunyai
tanggung jawab baik secara fisik maupun spiritual terhadap keberhasilan
aktivitas kerja dari yang dipimpin, sehingga menjadi pemimpin itu tidak
mudah dan tidak akan setiap orang mempunyai kesamaan di dalam
menjalankan ke-pemimpinannya.
Kepemimpinan
(leadership) adalah bagian tersendiri dari manajemen. Manajer dalam
melaksanakan fungsi-fungsi manajemen memerlukan adanya kepemimpinan.
Kepemimpinan yang efektif harus memberikan pengarahan terhadap
usaha-usaha semua pekerja dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi, tanpa
kepemimpinan hubungan
antara tujuan perseorangan dengan tujuan organisasi mungkin menjadi
renggang(lemah). Oleh karena itu, kepempinan sangat diperlukan bila
suatu organisasi ingin sukses. Namun demikian sebenarnya kepemimpinan
itu sendiri masih merupakan suatu konsep yang sulit diterangkan atau
merupakan sebuah “kotak hitam” (black box) yang sangat indah
Pada
intinya dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi
aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah
pencapaian tujuan.
Karakter yang harus ada pada diri seorang pemimpin adalah:
- mumpuni, artinya memiliki kapasitas dan kapabilitas yang lebih baik daripada orang-orang yang dipimpinnya,
- juara, artinya memiliki prestasi baik akademik maupun non akademik yang lebih balk dibanding orang-orang yang dipimpinnya,
- tangungjawab, artinya memiliki kemampuan dan kemauan bertanggungjawab yang lebih tinggi dibanding orang-orang yang dipimpinnya,
- aktif, artinya memiliki kemampuan dan kemauan berpartisipasi sosial dan melakukan sosialisasi secara aktif lebih baik dibanding orang-orang yang dipimpinnya, dan
- walaupun tidak harus, sebaiknya memiliki status sosial ekonomi yang lebih tinggi dibanding orang-orang yang dipimpinnya.
B. TEORI KEPEMIMPINAN
Sebelum mencoba untuk menganalisa kedudukan kepemimpinan dalam suatu organisasi perlu ditelusuri dulu perkembangan teori kepemimpinan yaitu :
1. TEORI SIFAT KEPEMIMPINAN
Analisis ilmiah tentang kepemimpinan dimulai dengan memusatkan perhatian pada para pemimpin itu sendiri. Kepemimpinan adalah suatu fungsi kualitas seorang individu, bukan fungsi situasi, teknologi, atau dukungan masyarakat. Keith Davis mengintisarikan ada empat ciri utama yang mempunyai pengaruh terhadap kesuksesan kepemimpinan dalam organisasi yaitu :
- Kecerdasan (intellegence)
- Kedewasaan sosial dan hubungan sosial yang luas (social maturity and breath)
- Motivasi diri dan dorongan berprestasi
- Sikap-sikap hubungan manusia.
2. TEORI KELOMPOK
Teori kelompok dalam kepemimpinan (group theory of leadership) dikembangkan atas dasar ilmu psikologi sosial.
Teori ini menyatakan bahwa untuk pencapaian tujuan-tujuan kelompok
harus ada pertukaran yang positif antara pemimpin dan bawahannya.
3. TEORI SITUASIONAL
Pendekatan
sifat maupun kelompok terbukti tidak memadai untuk mengungkap teori
kepemimpinan yang menyeluruh, perhatian dialihkan pada aspek-aspek
situasional kepemimpinan. Fred Fiedleer telah mengajukan sebuah model dasar situasional bagi efektivitas kepemimpinan yang dikenal sebagai contingency model of leadership effectiveness yang menjelaskan hubungan antara gaya kepemimpinan dan situasi yang menguntungkan atau menyenangkan, situasi-situasi tersebut digambarkan dalam tiga dimensi emprik yaitu :
a. Hubungan pimpinan anggota
b. Tingkat dalam struktur tugas
c. Posisi kekuasaan
4. TEORI PTH-GOAL
Teori
ini menganalisa pengaruh (dampak) kepemimpinan terutama perilaku
pemimpin terhadap motivasi bawahan, kepuasan dan pelaksanaan kerja.
Teori memasukkan empat tipe atau gaya pokok perilaku pemimpin yaitu :
a. Kepemimpinan direktif (directive leadership)
b. Kepemimpinan suportif (supportive leadership)
c. Kepemimpinan partisipatif (participative leadership)
d. Kepemimpinan orientasi prestasi (achievement-oriented leadership).
5. TEORI GENETIS / KETURUNAN
Inti
dari teori ini tersimpul dalam mengadakan “leaders are born and not
made”. Bahwa penganut teori ini mengatakan bahwa seorang pemimpin akan
karena ia telah dilahirkan menjadi pemimpin. Dalam keadaan bagaimanapun
seorang ditempatkan pada suatu waktu ia akan menjadi pemimpin karena ia
dilahirkan untuk itu. Artinya takdir telah menetapkan ia menjadi
pemimpin.
Seseorang
dapat menjadi pemimpin karena keturunan atau warisan. Karena orang
tuanya seorang pemimpin maka anaknya otomatis akan menjadi pemimpin
menggantikan orang tuanya, seolah-olah seseorang menjadi pemimpin karena
ditakdirkan. (Wursanto, 2003: 199).
6. TEORI SOCIAL
Jika teori genetis mengatakan bahwa “leaders are born and not made”, maka penganut-penganut social mengatakan sebaliknya yaitu : “Leaders are made and not born”.
Penganut-penganut
teori ini berpendapat bahwa setiap orang akan dapat menjadi pemimpin
apabila diberi pendidikan dan kesempatan itu.
7. TEORI EKOLOGIS / BAKAT
Teori
ini merupakan penyempurnaan dari kedua teori genetis dan teori social.
Penganut-penganut teori ini berpendapat bahwa seseorang hanya dapat
menjadi pemimpin yang baik apabila pada waktu lahirnya telah memiliki
bakat-bakat kepemimpinan, bakat mana kemudian dikembangkan melalui
pendidikan yang teratur dan pengalaman-pengalaman yang memungkinkannya
untuk mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat yang memang telah
dimilikinya itu.
Teori
ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori genetis dan teori
social dan dapat dikatakan teori yang paling baik dari teori-teori
kepemimpinan. Namun demikian penyelidikan yang jauh yang lebih mendalam
masih diperlukan untuk dapat mengatakan secara pasti apa factor-faktor
yang menyebabkan seseorang timbul sebagai pemimpin yang baik.
8. TEORI KELEBIHAN
Yang
beranggapan bahwa seseorang akan menjadi pemimpin apabila ia memiliki
kelebihan dari para pengikutnya. Pada dasarnya kelebihan yang harus
dimiliki oleh seorang pemimpin mencakup tiga hal, pertama; kelebihan
ratio, ialah kelebihan menggunakan pikiran, kelebihan dalam pengetahuan
tentang hakikat tujuan dari organisasi, dan kelebihan dalam memiliki
pengetahuan tentang cara-cara menggerakkan organisasi, serta dalam
pengambilan keputusan yang cepat dan tepat, Kedua; Kelebihan Rohaniah,
berarti seorang pemimpin harus mampu menunjukkan keluhuran budi
pekertinya kepada para bawahan. Seorang pemimpin harus mempunyai moral
yang tinggi karena pada dasarnya pemimpin merupakan panutan para
pengikutnya. Segala tindakan, perbuatan, sikap dan ucapan hendaknya
menjadi suri tauladan bagi para pengikutnya, Ketiga, Kelebihan Badaniah;
Seorang pemimpin hendaknya memiliki kesehatan badaniah yang lebih dari
para pengikutnya sehingga memungkinkannya untuk bertindak dengan cepat.
Akan tetapi masalah kelebihan badaniah ini bukan merupakan faktor pokok.
(Wursanto, 2003: 197-198).
9. TEORI KHARISMATIS
Seseorang
menjadi pemimpin karena mempunyai karisma (pengaruh) yang sangat besar.
Karisma itu diperoleh dari Kekuatan Yang Maha Kuasa. Dalam hal ini ada
suatu kepercayaan bahwa orang itu adalah pancaran Zat Tunggal, sehingga
dianggap mempunyai kekuatan ghaib (spranatural power). Pemimpin yang
bertipe karismatik biasanya memiliki daya tarik, kewibawaan dan pengaruh
yang sangat besar. (Wursanto, 2003: 199).
Pada umumnya para pemimpin dalam setiap organisasi dapat diklasifikasikan menjadi lima tipe utama yaitu sebagai berikut :
1. TIPE KEPEMIMPINAN OTOKRATIS
Tipe kepemimpin ini menganggap bahwa pemimpin adalah merupakan suatu hak.
Ciri-ciri kepemimpin tipe ini adalah sebagai berikut :
a. Menganggap bahwa organisasi adalah milik pribadi
b. Mengandalkan kepada kekuatan / kekuasaan
c. Menganggap dirinya paling berkuasa
d. Jauh dari para bawahan
e. Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi
f. Menganggap bahwa bawahan adalah sebagai alatsemata-mata
g. Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat dari orang lain karena dia menganggap dialah yang paling benar
h. Selalu bergantung pada kekuasaan formal
i. Dalam menggerakkan bawahan mempergunakan pendekatan (Approach) yang mengandung unsur paksaan dan ancaman.
j. Keras dalam mempertahankan prinsip.
Dari
sifat-sifat yang dimiliki oleh tipe kepemimpin otokritas tersebut
diatas dapat diketahui bahwa tipe ini tidak menghargai hak-hak dari
manusia, karena tipe ini tidak dapat dipakai dalam organisasi modern.
2. TIPE KEPEMIMPINAN LAISSEZ FAIRE
a. Memberi kebebasan kepada para bawahan
b. Pimpinan tidak terlibat dalam kegiatan
c. Semua pekerjaan dan tanggung jawab dilimpahkan kepada bawahan
d. Tidak mempunyai wibawa
e. Tidak ada koordinasi dan pengawasan yang baik.
3. TIPE KEPEMIMPINAN MILITERISTIK
Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dengan seorang pemimpin tipe militeristik
tidak sama dengan pemimpin-pemimpin dalam organisasi militer. Artinya
tidak semua pemimpin dalam militer adalah bertipe militeristis.
Seorang pemimpin yang bertipe militeristik mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
a. Dalam menggerakkan bawahan untuk yang ditetapkan, perintah mencapai tujuan digunakan sebagai alat utama
b. Dalam komunikasi menggunakan saluran formal
c. Menggunakan sistem komando dalam perintah
d. Dalam menggerakkan bawahan sangat suka menggunakan pengkat dan jabatannya
e. Senang kepada formalitas yang berlebihan
f. Menuntun disiplin yang tinggi dan kepatuhan mutlak dari bawahan
g. Tidak mau menerima kritik dari bawahan
h. Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
Dari
sifat-sifat yang dimiliki oleh tipe kepemimpinan militeritas jelaslah
bahwa tipe pemimpin seperti ini bukan merupakan pemimpin yang ideal.
4. TIPE KEPEMIMPINAN PATERNALISTIK
Tipe kepemimpinan paternalistik
mempunyai ciri tertentu yaitu bersifat fathernal atau kepakan.
Kepemimpinan seperti ini menggunakan pengaruh yang sifat kebapaan dalam
menggerakkan bawahan mencapai tujuan. Kadang-kadang pendekatan yang
dilakukan sifat terlalu sentimental.
Sifat-sifat umum dari tipe kepemimpinan paternalistik dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa
b. Bersikap terlalu melindungi bawahan
c. Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan. Karena itu jarang pelimpahan wewenang.
d. Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan inisyatif daya kreasi
e. Selalu memberikan perlindungan
f. Sering menggap dirinya maha tahu.
g. Pemimpin bertindak sebagai bapak.
Harus
diakui bahwa dalam keadaan tertentu pemimpin seperti ini sangat
diperlukan. Akan tetapi ditinjau dari segi sifat-sifat negatifnya
pemimpin paternalistis kurang menunjukkan elemen kontinuitas terhadap
organisasi yang dipimpinnya.
5. TIPE KEPEMIMPINAN KARISMATIS
Sampai
saat ini para ahli manajemen belum berhasil menemukan sebab-sebab
mengapa seorang pemimpin memiliki karisma. Yang diketahui ialah tipe
kepemimpinan seperti ini mempunyai daya tarik yang amat besar, dan
karenanya mempunyai pengikut yang sangat besar. Kebanyakan para pengikut
menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin seperti ini,
pengetahuan tentang faktor
penyebab karena kurangnya seorang pemimpin yang karismatis, maka sering
hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan
gaib (supernatural powers), perlu dikemukakan bahwa kekayaan, umur,
kesehatan profil pendidikan dan sebagainya,tidak dapat digunakan sebagai
criteria tipe pemimpin karismatis.
6. TIPE KEPEMIMPINAN DEMOKRATIS
Dari
semua kepemimpinan yang ada, tipe kepemimpinan demokratis dianggap
adalah tipe kepemimpinan yang terbaik. Hal ini disebabkan karena tipe
kepemimpinan ini selalu mendahulukan kepentingan kelompok dibandingkan
kepentingan individu.
Beberapa ciri dari tipe kepemimpinan demokratis adlah sebagai berikut :
1. Dalam proses menggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah mahluk yang termulia di dunia
2. Selalu berusaha menselaraskan kepentingan dan tujuan pribadi dengan kepentingan organisasi
3. Senang menerima saran, pendapat dan bahkan dari kritik bawahannya
4. Mentolerir
bawahan yang membuat kesalahan dan berikan pendidikan kepada bawahan
agar jangan berbuat kesalahan dengan tidak mengurangi daya kreativitas,
inisyatif dan prakarsa dari bawahan
5. Lebih menitik beratkan kerjasama dalam mencapai tujuan
6. Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya
7. Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
Dari
sifat-sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin tipe demokratis, jelaslah
bahwa tidak mudah untuk menjadi pemimpin demokratis.
7. TIPE KEPEMIMPINAN OPEN LEADERSHIP
Tipe
ini hampir sama dengan tipe demokratis. Perbedaannya terletak dalam hal
pengambilan keputusan. Dalam tipe ini keputusan ada ditangan pemimpin.
Hasil
dari penelitian menunjukkan bahwa seorang yang tergolong sebagai
pemimpin adalah seorang yang pada waktu lahirnya yang berhasil memang
telah diberkahi dengan bakat-bakat kepemimpinan dan karirnya
mengembangkan bakat genetisnya melalui pendidikan pengalaman kerja.
Pengembangan
kemampuan itu adalah suatu proses yang berlangsung terus menerus dengan
maksud agar yang bersangkutan semakin memiliki lebih banyak ciri-ciri
kepemimpinan.
Walaupun
belum ada kesatuan pendapat antara para ahli mengenai syarat-syarat
ideal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, akan tetapi beberapa
diantaranya yang terpenting adalah sebagai berikut :
- Pendidikan umum yang luas
- Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang generalist yang baik juga
- Kemampuan berkembang secara mental
- Ingin tahu
- Kemampuan analistis
- Memiliki daya ingat yang kuat
- Mempunyai kapasitas integrative
- Keterampilan berkomunikasi
- Keterampilan mendidik
- Personalitas dan objektivitas
- Pragmatismo
- Mempunyai naluri untuk prioritas
- Sederhana
- Berani
- Tegas dan sebagainya.
1. THE VISION ROLE
Sebuah
visi adalah pernyataan yang secara relatif mendeskripsikan aspirasi
atau arahan untuk masa depan organisasi. Dengan kata lain sebuah
pernyataan visi harus dapat menarik perhatian tetapi tidak menimbulkan
salah pemikiran. Agar
visi sesuai dengan tujuan organisasi di masa mendatang, para pemimpin
harus menyusun dan manafsirkan tujuan-tujuan bagi individu dan unit-unit
kerja.
2. PERAN PEMIMPIN DALAM PENGENDALIAN DAN HUBUNGAN ORGANISASIOANAL
THE VISION ROLE
Tindakan manajemen para pemimpin organisasi dalam mengendalikan organisasi meliputi:
(a) mengelola harta milik atau aset organisasi;
(b) mengendalikan kualitas kepemimpinan dan kinerja organisasi;
(c) menumbuhkembangkan
serta mengendalikan situasi maupun kondisi kondusif yang berkenaan
dengan keberadaan hubungan dalam organisasi.
Dan
peran pengendalian serta pemelihara / pengendali hubungan dalam
organisasi merupakan pekerjaan kepemimpinan yang berat bagi pemimpin.
Oleh sebab itu diperlukan pengetahuan, seni dan keahlian untuk
melaksanakan kepemimpinan yang efektif.
Ruang
lingkup peran pengendali organiasasi yang melekat pada pemimpin
meliputi pengendalian pada perumusan pendefinisian masalah dan
pemecahannya, pengendalian pendelegasian wewenang, pengendalian uraian
kerja dan manajemen konflik.
Ruang
lingkup peran hubungan yang melekat pada pemimpin meliputi peran
pemimpin dalam pembentukan dan pembinaan tim-tim kerja; pengelolaan tata
kepegawaian yang berguna untuk pencapaian tujuan organisasi; pembukaan,
pembinaan dan pengendalian hubungan eksternal dan internal organisasi
serta perwakilan bagi organisasinya.
3. PERAN PEMBANGKIT SEMANGAT THE VISION ROLE
Salah
satu peran kepemimpinan yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin
adalah peran membangkitkan semangat kerja. Peran ini dapat dijalankan
dengan cara memberikan pujian dan dukungan. Pujian dapat diberikan dalam
bentuk penghargaan dan insentif. Penghargaan adalah bentuk pujian yang
tidak berbentuk uang, sementara insentif adalah pujian yang berbentuk
uang atau benda yang dapat kuantifikasi. Pemberian insentif hendaknya
didasarkan pada aturan yang sudah disepakati bersama dan transparan.
Insentif akan efektif dalam peningkatan semangat kerja jika diberikan
secara tepat, artinya sesuai dengan tingkat kebutuhan karyawan yang
diberi insentif, dan disampaikan oleh pimpinan tertinggi dalam
organisasi , serta diberikan dalam suatu ‘event’ khusus.
Peran
membangkitkan semangat kerja dalam bentuk memberikan dukungan, bisa
dilakukan melalui kata-kata , baik langsung maupun tidak langsung, dalam
kalimat-kalimat yang sugestif. Dukungan juga dapat diberikan dalam
bentuk peningkatan atau penambahan sarana kerja, penambahan staf yag
berkualitas, perbaikan lingkungan kerja, dan semacamnya.
4. PERAN PENYAMPAIAN INFORMASI THE VISION ROLE
Informasi merupakan jantung kualitas perusahaan atau organisasi; artinya walaupun produk dan layanan purna jual perusahaan tersebut bagus, tetapi jika komunikasi internal dan eksternalnya tidak bagus, maka perusahaan itu tidak akan bertahan lama karena tidak akan dikenal masyarakat dan koordinasi kerja di dalamnya jelek. Penyampaian atau penyebaran informasi harus dirancang sedemikian rupa sehingga informasi benar-benar sampai kepada komunikan yang dituju dan memberikan manfaat yang diharapkan. Informasi yang disebarkan harus secara terus-menerus dimonitor agar diketahui dampak internal maupun eksternalnya. Monitoring tidak dapat dilakukan asal-asalan saja, tetapi harus betul-betul dirancang secara efektif dan sistemik. Selain itu, seorang pemimpin juga harus menjalankan peran consulting baik ke ligkungan internal organisasi maupun ke luar organisasi secara baik, sehingga tercipta budaya organisasi yang baik pula. Sebagai orang yang berada di puncak dan dipandang memiliki pengetahuan yang lebih baik dibanding yang dipimpin, seorang pemimpin juga harus mampu memberikan bimbingan yang tepat dan simpatik kepada bawahannya yang mengalami masalah dalam melaksanakan pekerjaannya.
F. APLIKASI KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI
- KEPEMIMPINAN, ORGANISASI, DAN PERUBAHAN LINGKUNGAN
Ada
tiga jenis perubahan yaitu perubahan rutin, perubahan pengembangan, dan
inovasi. Mengelola perubahan adalah hal yang sulit. Ukuran kapasitas
kepemimpinan seseorang salah satu diantaranya adalah kemampuannya dalam
mengelola perubahan. Kemampuan ini penting sebab pada masa kini
pemimpin, akan selalu dihadapkan pada perubahan-perubahan, sehingga
pemimpin dituntut untuk mampu menyesuaikan dengan perubahan lingkungan.
Pemimpin yang kuat bahkan mampu mempelopori perubahan lingkungan. Ada
empat tahap yang harus dilakukan agar pemimpin dapat mengelola
perubahan lingkungan. Tahap-tahap tersebut adalah pertama,
mengidentifikasi perubahan; Kedua, Menilai posisi organisasi; Ketiga,
Merencanakan dan melaksanakan perubahan; dan Keempat, Melakukan
evaluasi. Untuk memperoleh hasil yang diharapkan maka keempat langkah
tersebut perlu dilakukan secara berurutan dan berkesinambungan.
- KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA ORGANISASI
Tugas
utama seorang pemimpin adalah mengajak orang untuk menyumbangkan
bakatnya secara senang hati dan bersemangat untuk kepentingan
organisasi. Dengan demikian pemimpin atau manajer harus mengarahkan
perilaku para anggota organisasi agar tujuan organisasi dapat tercapai. Para
pemimpin perlu membentuk, mengelola, meningkatkan, dan mengubah budaya
kerja organisasi. Untuk melaksanakan tugas tersebut, manajer perlu
menggunakan kemampuannya dalam membaca kondisi lingkungan organisasi,
menetapkan strategi organisasi, memilih teknologi yang tepat, menetapkan
struktur organisasi yang sesuai, sistem imbalan dan hukuman, sistem
pengelolaan sumberdaya manusia, sistem dan prosedur kerja, dan
komunikasi serta motivasi.
Salah
satu cara mengembangkan budaya adalah dengan menetapkan visi yang jelas
dan langkah yang strategis, mengembangkan alat ukur kinerja yang jelas,
menindaklanjuti tujuan yang telah dicapai, menetapkan sistem imbalan
yang adil, menciptakan iklim kerja yang lebih terbuka dan transparan,
mengurangi permainan politik dalam organisasi, dan mengembangkan
semangat kerja tim melalui pengembangan nilai-nilai inti.
- KEPEMIMPINAN DAN INOVASI
Inovasi
berbeda dengan kreativitas. Kreativitas lebih berfokus pada penciptaan
ide sedangkan inovasi berfokus pada bagaimana mewujudkan ide. Karena
inovasi adalah proses mewujudkan ide, maka diperlukan dukungan dari
faktor-faktor organisasional dan leaderships.
Dalam
membahas inovasi paling tidak ada duabelas tema umum yang berkaitan
dengan pembahasan tentang inovasi yaitu kreativitas dan inovasi,
karakteristik umum orang-orang kreatif, belajar atau bakat, motivasi,
hambatan untuk kreatif dan budaya organisasi, struktur organisasi,
struktur kelompok, peranan pengetahuan, kreativitas radikal atau
inkrimental, struktur dan tujuan,proses, dan penilaian. Kemampuan
organisasi dalam mengelola keduabelas tema tersebut akan menentukan
keberhasilannya dalam melakukan inovasi.
Inovasi
berkaitan erat dengan proses penciptaan pengetahuan. Proses penciptaan
pengetahuan dilakukan dengan melakukan observasi atas kejadian,
mengolahnya menjadi data, lalu data dijadikan informasi, dan informasi
diberikan konteks sehingga menjadi pengetahuan. Pengetahuan inilah yang
oleh pemimpin dijadikan arah atau bekal untuk melakukan inovasi.
Organisasi yang mampu secara terus menerus melakukan penciptaan
pengetahuan disebut sebagai learning organization.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar